Anak
kecil itu terlihat senang berlarian kesan kemari di halaman rumahnya, tak ada
gurat kesedihan sedikitpun terpancar dari wajahnya, tubuhnya yang kecil mungil
itu dibelai-belai oleh angin yang ikut terhempas berlarian seiring gerakan si
kecil yang kian lincah.
Tak taukah kau kawan apa yang akan terjadi kelak di
kehidupanmu yang selanjutnya? Tak taukah kau teman begitu berat perjalanan
hidup yang akan menantimu di depan sana? Tak taukah kau sobat derai air mata
kelak akan tertumpah membasahi jalan yang selalu menunggu untuk kau lewati? Tak
taukah kau sahabat sungguh hidup ini sangat
berat!
Kawan aku akan menceritakan kisah masa kecilku yang
amat sangat bahagia, amat sangat tanpa beban yang setiap detik harus ku cari
jalan keluarnya,masa kecil yang penuh canda tawa, yaitu masa kecil ketika ku
punya kedua orang tua dan saudara.
Perkenalkan namaku Aisyah. Aku adalah anak dari
orang tua yang sederhana, aku tak punya sesuatu yang wah, yang dapat ku
pamerkan kepada teman – teman sebayaku, kehidupanku serba cukup dan
alhamdulillah tidak pernah kurang. Ayah ku seorang supir pribadi dan ibuku
seorang ibu rumah tangga biasa. Aku adalah anak tunggal dari kedua orang tuaku
namun aku mempunya dua orang saudara se-ayah. Mereka tidak pernah jahat
kepadaku layaknya cerita – cerita di sinetron, mereka selalu baik kepadaku, ku
dengar cerita ibuku bahwa ketika aku masih bayi kedua kakakku itu selalu berebutan
untuk menggendongku meskipun mereka menggendongku karena ingin diberikan ijin
agar bisa keluar untuk menonton TV, maklumlah dahulu di kampung tempat aku
tinggal hanya beberapa orang yang mempunyai televisi, dan agar bisa menonton
ibu memberi syarat kepada kakak – kakakku agar membantu ibu untuk mengurus ku.
Setiap haripun kedua kakakku itulah yang menemaniku bermain. Setiap pulang
sekolah merekalah yang selalu mengajak ku untuk bermain. Kalau kakak ku yang
paling besar sering mengajakku main masak – masakkan karena dia memang
perempuan, lain halnya dengan kakak kedua ku dia adalah laki – laki , kalau pulang sekolah dia selalu mengajak ku
ke kebun milik pak haji Abdurrahman untuk ikut bermain bola atau bermain
klereng. Aku ingat ketika itu kak Putra yaitu kakakku yang laki – laki mengajak
ku ke kebun, karena kebun milik Pak Haji Abdurrahma ada di seberang sungai maka
kak Putra selalu menggedong ku untuk menyebrangi sungai itu, kalau ku ingat
masa itu sungguh bahagianya aku mempunyai kakak – kakak yang sangat baik
padaku.
Suatu ketika kak Putra mengajak ku bermain ke kebun
, tanpa sengaja ketika sudah sampai di seberang sungai kak putra menginjak
patahan ranting mambu yang tajam sehingga kaki kak putra berdarah, aku ingat
betul saat kak putra meringis kesakitan dan tak kusangka walaupun kaki kak
putra berdarah dia tetap saja menggendongku untuk pulang ke rumah, aku kasian
melihat kak putra yang menangis kesakitan ketika kaki kak putra diobati ibu,
aku kasian melihat kak putra yang tidak bisa bermain bola gara – gara kakinya
terluka, mungkinkah karena terlalu senang mengajak ku bermain sampai – sampai
kak putra tak melihat ranting itu, aku senang sekali ketika kak putra
menggendong ku di punggungnya sambil kak putra bernyanyi dan loncat – loncat
kecil agar membuat ku terjungkal – jungkal ke udara sambil melepas tertawa lebarku yang renyah,
aku merasa bersalah kepada kak putra karena hanya ingin membuat aku bahagia dia
menderita seperti itu, akupun ikut menangis melihat kak putra kesakitan, namun
dengan senyuman kak putra yang khas dia mengelus – elus rambutku yang kriting,
senyumannya yang selalu membuat ku tertawa di karenakan kalau kak putra
tersenyum maka giginya yang jarang itu keliatan, aku suka itu. Namun saat itu
,senyuman kak putra tak membuat ku tertawa, senyuman itu malah membuat aku
menangis, maafkan aku kak putra.
Suatu ketika saat kak rani yaitu kakakku yang
perempuan tamat SD, ayah mengirim kak
Rani untuk melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren, saat itu aku sedih
sekali karena teman main masak-masakanku harus pergi dan tak bisa menemaniku membuat
nasi goreng tanah dan mie goreng daun. Tak ada lagi teman main boneka yang
setiap hari mengajakku memainkah kisah pesta- pesta ulang tahun. Namun karena
harus melanjutkan sekolahnya, akupun harus rela kehilangan teman mainku itu,
toh setiap libur kenaikan kelas kak rani akan pulang dan akan bermain lagi
dengan ku.
Dan sekarang teman mainku kun Cuma kak putra. Karena
setiap hari aku di ajak bermain bola dan kelereng bersama teman – temannya kak
putra , akupun tumbuh menjadi anak yang tomboy. Tak pernah lagi aku memakai
rok. Suatu ketika ayah mengajak ku jalan – jalan , karena aku paling suka apel
merah akhinya ayah ingin membelikan ku apel merah di pedagang buah di deka
perempatan , namun sayang apel merahnya habis, akupun memasang wajah murungku,
akhirnya ayah menawarkanku ganti apel merahnya .
“
Aisyah kata ibu pedagangnya apel merahnya sudah habis, kita beli besok saja
ya?”
Aku
hanya diam sambil manyun – manyun.
“hmmm...
kalau begitu sebagai gantinya Aisya mau ayah beliin apa?”
“aku
mau maina yah” kata ku spontan.
“kalau
begitu kita ke toko seberang itu ya”
Akupun
menurut saya sambil mengganggukkan kepala.
Setelah sampai di toko mainan seberang jalan, ayah
menyuruhku memilih mainan apa yang aku inginkan. Dengan polosnya aku
mengacungkan jari telunjukku ke arah sebuah mainan yang sungguh membuat ayahku
heran dan bertanya- tanya.
“Aisyah,,benar
ingin yang itu?” tanya ayahku heran.
“mmmmmm...mmmmm..”
kata ku sambil mengangguk.
“tapi
ini mainan anak laki-laki nak.”kata ayahku memperlihatkan mainan yang aku pilih
tadi.
“pokoknya
mau yang ini.” Kataku ngotot sambil memegang erat mobil-mobilan pemadam
kebakaran itu.
“hhhh...ya
sudahlah, yang ini saja pak.” Kata ayahku kepenjual mainan sembari membayarnya.
Akupun
cengar – cengir membayangkan akan memainkan mobil – mobilan ini bersama kak
putra.
***
“Dek Aisyah, kakak pergi ke sekolah dulu ya, nanti
kalau kakak pulang, kakak bawain mainan ya, nanti kita main lagi ya..”. kata
kak putra sambil mengusap rambutku.
“
ya kak, sekolahnya yang cepet ya “ kataku sambil tersenyum.
Setelah
perpamitan dan mencium tangan ibu, kak putra pun berangkat ke sekolah, dan
tersenyum padaku sambil melambaikan tangannya.
Jam sudah menunjukkan jam 11 siang, namun kak putra
belum juga pulang, aku bosan main sendiri dan berulang kali aku menanyakan pada
ibu kpan kak putra akan pulang, sepertinya hidupku hampa tanpa kak putra.
“
ma sudah jam berapa? Kapan kak putra pulang? Masih lama ya?” pertanyaan itu
berkali – kali aku tanyakan pada ibu. Namun ibu selalu sabar menanggapi
pertanyaan anak umur 4 tahun yang cerewet ini.
“
sabar aisyah, sebentar lagi kak Putra pulang, sekarang kan kak putra sudah
kelas 5 jadinya kak putra pulangnya jam 1 siang aisyah”. Kata mama lembut
kepadaku.
“jam
1 itu bentar lagi ya ma, hmmmmm....?”
“sambil
nunggu kak putra pulang kita buat pisang goreng kesukaan kak putra yuk!”
“okee….”kataku
bersemangat.
BERSAMBUNG... ^_^